Ramadhan di Kaliwungu

Posted on
Abstrak
           Dalam tradisi pesantren sangat wajar seorang santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. mencari berkah kyai sekaligus menambah pengalaman sosial budaya pesantren lain. Kaliwungu sebagai kota tua, banyak menyimpan sejarah dan peradaban. Dari tradisi dugderan, haul, makan kuliner sampai santri kalong atau santri pasaran menjadi iklan wisata secara gratis, apalagi di bulan suci ramadhan, seolah ada magnet tersendiri, kita akan bisa menemukan banyak orang dari berbagai daerah jawa barat, jawah timur dan luar jawa.
A . Pendahulaun
        Ramadhan adalah bulan suci dalam tradisi islam, dan diwajibkan bagi setiap pemeluknya untuk melakukan kewajiban berpuasa, dari waktu terbitnya faar sampai terbenamnya matahari.pada umumnya  Instasi-instasi pendidikan di nusantara, ada yang menyikapi dengan meliburkan peserta didiknya, ada juga yang masih tetap saja seperti biasa, tapi berbeda sedikit, waktunya agak dikurangi. Istirahatnya lebih panjang, kegiatan belajar mengajar dipercepat. Akan tetapi beda sekali dengan pesantren, pesantren libur total[1] . dikota-kota pesisir utara pantai jawa ramadhan akhir menjadi event yang tidak terlewatkan, pedagang kaki lima dadakan, pos-pos polisi berdiri untuk memenuhi tugasnya,  transportasi umum, mobil-mobil pribadi, motor, seolah membanjiri  jalanan deandles, jalan raya tertua di pulau jawa ini, apalagi ketika waktu berbuka, atau menjelang berbuka jalan-jalan besar, dekat masjid atau pasar dibanjiri ribuan orang untuk membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa, ada yang rombongan dari jama’ah, ada yang dari perjalanan, anak panti asuhan, TPA, serta warga sekitar. Secara geografis, kaliwungu berada di dekat pantai , kaliwungu adalah nama desa sekaligus kecamatan di kabupaten kendal jawa tengah.
B. SEJARAH KALIWNGU
         Kultur masyarakat Kaliwungu Kendal yang begitu Islam bisa jadi tak lepas dari sejarah kota Kaliwungu itu sendiri. Sejarah kota Kendal mencatat banyak tokoh agama besar ada di Kaliwungu, seperti Sunan Katong, atau Kyai Haji Asy’ari (Kyai Guru) yang masih punya garis keturunan dengan Kanjeng Sunan Giri  Gresik , Karena islami, maka sebutan kota santri bagi Kaliwungu rasanya memang tak bisa terbantahkan lagi. Pertumbuhan puluhan pondok pesantren yang menampung ribuan santri dari seluruh nusantara ini menunjukan bahwa kaliwungu layak dijadikan sebagai tujuan santri kalong[2], apalagi yang dikaji adalah kitab kuning dibulan ramadhan yang sudah berkelas tinggi seperti  Ihya Ulumuddin, Jurmiah, Alfiah, Taqrib, Fatkhul Muin, Jawahirul Buchori, Fadhoilul Aímal, Almawaidul Usfuriah menjadi santapan sehari-hari para santri kalong itu. Tak ketinggalan juga kitab seperti Arbain Nawawi, Kisotul Mikroj, [3]atau juga tafsir Jalalain menjadi kitab yang selalu disuntuki para santri kalong. Dalam wawancara penulis terhadap mas alwi hasan :
( biasane kitab-kitab seng arep digawe ngaji iku di tempelno na papan pengumuman, iso neng masjid. Neng pondok, mushola, lan mengko ono sak pembacae, contohne kitab arbain nawawi dibala KH.Dimyati rois. 18 mei 2010 )
Artinya : “biasanya, kitab yang akan dibacakan akan diumumkan di papan pengumuman, baik dimasjid, mushola, pondok dan nanti juga tertera pembacanya misalnya kitab arbain nawawi di ampuh oleh KH. Dimyati Rois “
Hal ini menunjukan kaliwungu[4] juga layak disebut sebagai kota santri, seperti gresik, jombang jawa timur serta kota-kota lain yang mempunyai banyak pesantren dan kultur masyarakat yang berwajah islami, dalam kasus ini penulis agak sedikit kebingungan, apa yang menjadi ukuran untuk melabeli sebuah kota menjadi sebuah kota santri, apakah karena banyaknya pesantren? Atau kultur masyarakat yang menggunakan peci, sarung, serta baju gamis untuk laki-laki dan perempuan berjiblab dan tidak berbaju ketat. Serta masyrakat yang selalu mengumandangkan  kalimat-kalimat  berbau arab dalam percakapan ? Bukankah wajah-wajah keislaman yang baik “ santri” adalah terciptanya kedamaian dan keselarasan dalam bermasyarakat serta munculnya intelektual dan peradaban islam.
C.TRADISI KALIWUNGU
Tradisi Dugderan
       Tradisi dugderan sendiri dikaliwungu biasa dilaksanakan menjelangkan akan datang datangnya bulan ramadhan yaitu pada akhir bulan Sya’ban menjelang tanggal 1 bulan ramadhan. Tradisi Dugderan sendiri yaitu itu sudah lama, yaitu dengan adanya banyaknya orang berjualan makanan khas Kaliwungu yang bermacam-macam bertempat di sekitar Masjid Almuttaqin Kaliwungu, kalau sekarang ini bertempat di Parkir Masjid Kaliwungu. Depan alun-alun kaliwungu, tradisi ini juga di meriahkan oleh karnaval dari warga sekitar,  grup drum band dan kemacetan lalu lintas jalan semarang Jakarta. Ada satu kuliner yang menarik, kuliner ini hanya bias ditemuin di tradisi dugderan yakni telur ikan pari, nerekan menyebutnya mimi. Di tambah ramainya pasar sore[5] dan pinggir alun-alun kaliwungu menambah kedamaian dan keharmonisan pemandangan para pengunjung. Penulis pernah bertanya kepada pedagang angkringan, disisi barat alun-alun dekat masjid besar agung al- muttaqin kaliwungu “ dugderan niki mas biasaepun di laksanakan sakderenge mlebet poso, “ tradisi dugderan ini, dilaksanakan sebelum masuk adegan puasa. Dan puncak acara ini ialah pada sore hari, semua berkumpul tumpleg bleg di alun-alun, dari ada yang mencari makanan khas sampai adegan karnaval dari warga kuthoharjo, djagalan wetan, dan desa-desa sekitar.
D. Haul Sesepuh Kaliwungu
Dipertengahan bulan suci ramadhan, warga kaliwungu mempunyai hajat besar, memperingati sesepuh yang telah mendahului, salah satu tokoh yang di anggap pantas untuk diperingati ialah mbah musyafak , karena di nilai mempunyai kontribusai besar terhadap masyarakat sekitar. Berikut penulis kutip dari sebuah website ( www. Nu. Or.id) : Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ta’mir masjid Al Muttaqin Kaliwungu Kendal tahun ini menggelar peringatan haul Wali Musyafak dan Mbah Ru’yat yang merupakan tokoh penting sekaligus ulama.
Haul ini tidak hanya di ikuti oleh masyrakat sekitar, melainkan juga agenda para santri kalong untulk ngalap berkah  selalu diikuti seluruh masyarakat dengan antusias. Antusiasme masyarakat akan terlihat ketika masyarakat, utamanya ibu-ibu para aktivis desa bergotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi masyarakat dan santri yang mengikuti haul, suasana guyup begitu terasa.

Peringatan haul diisi dengan pembacaan barzanji dan tahlil, serta ceramah keagamaan dan agaknya dalam ceramahnya selalu menyinggung, siapa itu mabh musyafak serta para pinih sepuh warga kaliwungu agar dijadikan suri tauladan untuk mengarungi kehidupan didunia ini. Selain itu juga banyak warga maupun santri mengunjugi makam-makam di jabal[6]. Mereka ada yang hanya sekedar membaca yasin dan tahlil, tapi ada juga yang meminta sesuatu, misalnya mendapat jodoh, rezeki melimpah, usaha sukses, penulis menyaksikan sendiri ada yang membakar dupo, kemudian ia bergaya bertapa. Kemudian penulis bertanya kepada kawan penulis: kenapa harus membakar dupa? Bolehkah itu dalam islam! Kawan penulis menjawab: mungkin membakar dupa itu sunnah nabi, kan baunya harum, mungkin boleh. Hal ini membuat penulis berfikir ada kesamaan ajaran antara islam dan tradisi jawa, yakni “wangi”,
E. Pasar sore
Pasar sore adalah sebuah aktivitas perekonomian yang cukup ramai, pasar ini beroperasi dari jam 03.00 sore sampai jam 02.00 pagi. Bertempat di alun-alun kaliwungu sebelah timur masjid besar kaliwungu, dipinggir jalan raya, banyak mobil angkutan jurusan semarang-kaliwungu, kaliwungi kendal-weleri. Dan sekali-kali ada bus pariwisata dan bus-bus besar menuju jakarta atau surabaya .delman. becak juga masih tetap eksis di tengah gencarnya mobilisasi transportasi.  Angkringan dan pedagang kaki lima berserakan  yang juga belum tertata dengan baik, lahan parker yang masih semrawut, pasar sore juga menawarkan banyak komuditas antara lain pakaian, barang-barang bekas, benda elektronik serta barang-barang yang sama dijual di pasar lain. Pemandangan yang aneh ialah ada sebagian santri tetap disana, jika berpergian tidak pakai sandal alias “nyeker”. Seorang pernah penulis bertanya: beliau menuturkan itu sudah tradisi santri sini mas. Mungkin hal ini yang membuat penulis kagum, karena ada sebagian yang masih melestarikan tradisi tempo dulu. Dan bisa dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tradisi tidak pakai sandal kalau pergi kepasar.
F. Kesimpulan
Kaliwungu sebagai kota tua, kota santri, kota industry banyak merekam jejak aktifitas manusia. dari tradisi local hingga akulturasi terhadap perkembangan zaman menjadikan kaliwungu layak untuk dikunjungi, apalagi ketika bulan suci ramadhan, banyak sekali kegiatan yang bernuansa kerakyatan, kebersamaan dan spiritual, tradisi dugderan misalnya, moment ini memberikan kontribusi ekonomi, dan mempertemukan warga sekitar se-kawedanan kaliwungu, disisi lain makanan khas yang setahun tidak muncul menjadi muncul. Begitu juga berziarah kemakam para ulama dan umara’, alun-alun sebagai pusar peradaban arsitektur kota tua islam  mataram di tempo dulu masih bisa kita saksikan di kaliwungu, dari masjid,  Pasar, penjara dan pendopo kawedanan.
Dan yang menarik ialah, bagaimana mengfungsikan benda-benda cagar budaya ini, serta tidak menghilangkan  semangat  zaman ini. Bukankah orang-orang yang bijak adalah orang yang belajar dari pengalaman, dan kaliwungu sudah mencatat beribu bahkan berjuta pengalaman, sehingga ia mampu bertahan sampai hari ini. Akhirnya kaliwungu adalah tempat yang memberikan inspirasi terhadap penulis[7] dalam bidang keagamaan, budaya serta semangat percaya diri.

[1] Biasanya pesantren yang libur total, ialah pesantren-pesantren salaf( hasil wawancara dengan mas alwi hasan. 14 mei 2011)

[2] Santri kalong adalah sebutan bagi para santri yang datang hanya di bulan ramadhan saja. Bisa dibilang, keberadaan mereka hanya ada di bulan ini saja. Kegiatan para santri kalong, mereka bisa mengambil waktu sejak dari subuh hingga menjelang sampai tengah malam. Artinya selagi si santri mampu maka dia bisa menghabiskan hari-hari puasanya dengan kegiatan mengaji. Dan ketika berbuka mereka memadati tempat-tempat makan dikampung-kampung ( warung makan ), masjid dan ada juga beberapa pesantren memberi buka gratis yang dibiayai oleh seorang kyai, biasanya buka dengan kurma serta minum teh dulu, kemudian sholat magrib berjamaah, sehabis itu baru mereka memakan nasi dan buah-buahan. Ada juga yang seketika itu makan baru berjamaah magrib. Dan hamper semua santri kalong sehabis makan merokok dulu.

[3] Semua kitab tersebut, kebanyakan dikaji diberbagai pesantren jawa.

[4] , Kaliwungu berasal dari adarah ungu yang mengalir seperti kali (sungai), atau darah ungu itu mengalir bagaikan sungai atau kali. Disebutkan oleh cerita tutur, bahwa ceritanya bermula dari perkelahian dua pendekar, yaitu Sunan Katong dan Empu atau Pangeran Pakuwojo. Keduanya tewas bersama dan darahnya mengalir seperti mengalirnya air sungai dengan warna ungu, darah putih bercampur dengan darah merah kehitam-hitaman.
Tewasnya keduau tokoh diawalai dengan kesalahpahaman yang didahului oleh kemarahan yang meletup-letup. Pakuwojo marah karena anaknya tidak mau menuruti kehendaknya, dan melarikan diri minta perlindungan Sunan Katong. Kemarahan Pakuwojo memuncak karena ada orang yang melindungi anaknya berarti menantang dirinya. Keris Pakuwojo yang sudah dikeluarkan dari rangkanya langsung ditancapkan ke tubuh orang yang melindungi anaknya yang tidak lain adalah Sunan Katong, gurunya sendiri. Setelah sadar dan melihat bahwa yang baru saja ditikam adalah gurunya sendiri, lemaslah Pakuwojo. Pakuwojo lalu minta ampun dan mendekatkan tubuhnya serta bersujud di kaki Sunan Katong. Dengan sisa-sisa tenaga, Sunan Katong mencabut keris yang menancap pada dirinya, dan langsung ditusukkan ke tubuh Pakuwojo. Dua tokoh yang berbeda aliran itu tewas secara bersama. Darah putih bercampur dengan darah merah kehitam-hitaman, menjadi warna ungu, mengalir bagaikan sungai (kali). Kaliwungu begitu nama di akhir zaman. ( biasanya dicerita ini disiarkan di radio-radio local setempat pada sore hari, menjelang berbuka, )

[5] Pasar sore bertempat di area alun-alun kaliwungu, dan hanya buka sore hari sampai dini hari.

[6] Jabal dalam bahasa indonesia berarti gunung, di derah kaliwungu ada sebuah bukit yang untuk menyemayamkan bupati kendal atau kaliwungu, serta ulama-ulama dan masyrakat sekitar.

[7] Penulis pernah ke kaliwungu,  ( 20 hari } selama ramadhan , wawancara bersama mas alwi hasan, dan tulisan ini juaga dari catatan harian penulis. Pada tahun 2008

oleh Begawan Angin Pengembara pada 08 Juli 2011 jam 22:05

Gravatar Image
Mufid adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir yang kebetulan terjun bebas di dunia Blogging dan Enterpreneur | Karena sejatinya yang senantiasa berubah adalah perubahan itu sendiri - Cicero

2 thoughts on “Ramadhan di Kaliwungu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *