Hitam Putih Pondok Pesantren Qomaruddin

Posted on

Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata “santri” berarti murid dalam Bahasa Jawa Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok.. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren)
**********

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa tujuan utama sebuah pondok pesantren yaitu menumbuhkan rasa kemandirian sekaligus meningkatkan hubungan seorang santri dengan kiyai dan juga tuhannya. Demikian juga pondok pesantren Qomaruddin yang telah mencapai usia dua abad. Dalam hal ini Pondok pesantren telah membuktikan eksistensinya tentang suatu pengabdian kepada masyarakat dalam kurun waktu yang cukup lama dengan menciptakan kader-kader muda yang dapat berguna bagi masyarakat sekitar.
Namun, sejalan dengan pengabdian dan apa yang telah dicapai oleh Pondok Pesantren Qomaruddin terdapat suatu masalah tersendiri yang timbul dari dalam tubuh dan  kepengurusan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana sikap dan perilaku para “pengurus”  dalam menyikapi apa yang telah dilakukan oleh para santri.
Dalam hal ini terdapat sebuah pertanyaan mendasar yang membuat saya untuk mencoba menjelaskannya, yaitu : “Apakah Kiyai memberikan hak penuh bagi para Pengurus untuk bertindak dan mengeluarkan peraturan untuk membina para santri ?”, mungkin dalam satu sisi para pengurus mempunyai kewajiban lebih dalam mengurus para santri, tapi dalam sisi hak ? Apa pengurus juga ’patut’ untuk memiliki hak melebihi santri ?. Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Mungkin iya bagi para santri senior yang menjadi pengurus untuk saat ini. Lalu ? Bagaimana dengan para mahasiswa yang baru masuk dan menjadi seorang pengurus ?. Banyak cara dari para santri untuk menyikapi hal ini. Dan menurut ‘kita’ tidak seharusnya para pengurus baru itu mempunyai hak lebih dalam masalah ini. Dari beberapa sisi dapat disimpulkan akan terjadi beberapa kesenjangan antara pengurus dan santri yang membuat mereka tidak akan pernah bisa mempunyai satu pemikiran. dan hal yang paling menonjol dari semua itu adalah adanya diskriminasi peraturan yang secara tidak langsung ‘hanya’ menguntungkan pihak pengurus yang secara langsung dirasakan oleh para santri.
**********
Hanya Sebuah Opini
Sedikit penjelasan yang cukup untuk menjawab tentang sebuah opini bahwa ‘pondok pesantren merupakan system pendidikan paling gagal’ saat ini. Dan oleh karena itu perlu sebuah titik temu untuk menggabungkan pemikiran para pengurus agar bisa diterima oleh para santri. Dan menurut ‘kita’ sebelum semua itu terealisasikan, baiknya perlu adaya revolusi kepengurusan dalam tubuh Pondok Pesantren Qomaruddin.
Karena pasti, suatu saat. semua kepemimpinan itu akan dimintai pertanggung jawabannya di depan Allah SWT.
Sumber : Gusmus.net, dan pemikiran para santri
By : Affa (Pondokgue.blogspot.com)
Gravatar Image
Mufid adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir yang kebetulan terjun bebas di dunia Blogging dan Enterpreneur | Karena sejatinya yang senantiasa berubah adalah perubahan itu sendiri - Cicero

2 thoughts on “Hitam Putih Pondok Pesantren Qomaruddin

  1. perlu adanya komunikasi yang lebih komunikatif dalam berbagai hal, jangan sampai hak-hak yang dimiliki oleh putra putri qomaruddin terampas oleh orang yang pintar yang hanya mengecap pendidikan formal aja!<br />saya lebih setuju kesempatan itu diberikan kepada santri qomaruddin yang memang mengetahui bagaimana keadaan pondok pesantren qomaruddin saat ini!<br />pondok qomaruddin butuh orang yang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *